ADANYA PRO DAN KONTRA TERHADAP PERNIKAHAN DINI

Namun akhir-akhir ini pernikahan dini menjadi sangat marak di Indonesia, baik di perkotaan dan pedesaan. Pernikahan dini saat ini sudah tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibicarakan. Banyak pro dan kontra yang terjadi di masyakat tentang pernikahan itu sendiri. Pernikahan dini di kalangan masyarakat dilakukan bukan tanpa alasan, pernikahan dini dilakukan dikarenakan beberapa faktor. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan terjadi pernikahan dini, yaitu faktor pendidikan yang rendah, faktor sosial budaya, berasal dari keluarga broken home, daya tarik, faktor ekonomi, dan pergaulan yang bebas sehingga seorang anak mengalami hamil duluan.

Fenomena pernikahan di usia muda masih sangat tinggi. Hal tersebut terlihat dari maraknya pernikahan usia muda pada kalangan remaja, yang kini tidak hanya terjadi di kalangan adat tetapi telah merambah pelajar sekolah yang semestinya fokus menuntut ilmu dan mengembangkan bakat. Pernikahan di usia muda hanyalah sepenggal realitas sosial yang dihadapimasyarakat saat ini. Pada kalangan remaja, pernikahan di usia muda ini dianggap sebagai jalan keluar untuk menghindari seks bebas.

Perkawinan muda sudah menjadi fenomena nasional, fenomena kultur yang sangat mempengaruhi pola kehidupn masyarakat, khususnya di Indonesia. Fenomena perkawinan muda di berbagai etnis di Indonesia memperlihatkan bahwa masalah perkawinan muda perlu untuk diperhatikan. Kerentanan sosial kutural akibat perkawinan muda cenderung berdampak terhadap aspek psikologis dan sosiologis, khususnya pada anak perempuan yang masih usia muda belia. Perkawinan muda yang dilakukan cenderung menimbulkan masalah dalam kehidupan rumah tangga pasangan yang menikah muda tersebut.

Pernikahan tanpa masalah adalah mitos belaka. Tidak seorang pun manusia di dunia ini yang mampu memainkan perannya secara sempurna. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna dan selalu berubah setiap hari. Sebagai manusia, kita bukanlah makhluk yang mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan pasangan kita dengan baik.

Sama halnya dengan pernikahan pada pasangan muda yang lebih rentan menghadapi masalah. Hal ini karenakan pernikahan tersebut dilakukan oleh sepasang remaja dengan kondisi umur dan fisik yang tergolong masih muda, memiliki kepribadian emosi yang masih labil. Emosi yang belum stabil, memungkinkan banyaknya pertengkaran dalam kehidupan berumahtangga. Pada dasarnya sebuah pernikahan tidak hanya dilandasi dan didasari oleh adanya rasa cinta dan sayang akan tetapi juga didasari kesiapan mental dari masing-masing pasangan. Kesiapan mental dan kedewasan dari setiap pasangan dituntut ketika pasangan tersebut membuat keputusan untuk menikah. Selain itu ketidakkesiapan mental dan materi dari setiap pasangan, hal ini menyebabkan mereka belum siap untuk menerima rintangan dalam kehidupan di masa yang akan datang. Ketidaksiapan ini tentunya menimbulkan konflik yang akan berdampak pada rumah tangga pernikahan pasangan muda tersebut. Konflik dalam pernikahan pasti akan selalu terjadi dan tidak dapat dihindari. Namun pasangan suami istri harus mengetahui potensi konflik yang timbul dari pasangannya dan cara mengahadapinya.

Tidak sedikit pernikahan pada pasangan muda yang merasa tidak bahagia dalam rumah tangga yang dijalani pasangan muda tersebut, hal ini dikarenakan berbagai konflik yang selalu mereka hadapi dan tidak kesiapan pasangan muda ini dalam menghadapi konflik yang ada. Sehingga muncullah perasaan yang tidak nyaman dikarenakan sering terjadinya konflik dan ego masing-masing yang membuat pasangan muda tersebut memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka atau perceraian. Pernikahan pada pasangan muda yang pada akhirnya berujung pada perceraian, hal ini akan membawa dampak terhadap masing-masing keluarga. Apabila pernikahan di antara anak-anaknya lancar, sudah tentu akan menguntungkan orang tuanya masing-masing. Namun, apabila sebaliknya keadaan rumah tangganya tidak bahagia dan akhirnya yang terjadi adalah perceraian. Hal ini mengakibatkan bertambahnya biaya hidup dan yang paling parah adalah renggangnya tali kekeluargaan di antara kedua belah pihak. Untuk mengahadapi dan menyelesaikan, diperlukan pengelolaan konflik atau yang dikenal dengan manajemen konflik dalam pernikahan.

Untuk menyelesaikan dan menghadapi konflik di dalam rumah tangga terutama bagi pada pasangan muda sangat penting untuk memahami kapan dan bagaimana konflik muncul.  Jika konflik dikelola dengan baik, benar, dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak yang sedang mengalami konflik, maka suatu hubungan akan menjadi baik pula. Tetapi jika konflik tidak dikelola dengan baik dan benar, maka suatu hubungan akan semakin memburuk. Oleh karena itu di dalam pernikahan pada pasangan muda diperlukan strategi manajemen konflik dalam menghadapi konflik yang muncul dalam kehidupan pasangan tersebut.